Cerpen: Mengubah Mimpi & Sekuel: Aku Mati Hari Ini

Cerpen: Mengubah Mimpi & Sekuel: Aku Mati Hari Ini

Oleh : MiZ

“Sebenarnya aku punya sebuah rahasia,” ucapku pada Zaki, teman sekelasku. Malam itu kami sedang asyik mengobrol sambil menikmati secangkir kopi hitam di sebuah warung di pojok pesantren.

Mata Zaki seketika membesar demi mendengar perkataanku.”Rahasia apaan? Kok kayak cewek saja kamu ini, Wan. Suka main rahasia-rahasiaan,” dia bertanya plus menggojlok (mengejek) dengan mulut penuh oleh gorengan yang entah sudah keberapa dia makan. Maklum, gorengan di warung ini memang terkenal bikin ngiler.

Aku mengabaikan gojlokannya dan menjawab, “aku bisa melihat masa depan melalui mimpi”.

Spontan suara tawa meledak dari mulut disertai serpihan-sepihan gorengan yang belum dia telan. “Hahaha…. Kepala kamu lagi pusing mikirin pelajaran ya? Sampai bisa bikin lelucon kayak gitu!” ujarnya masih menahan tawa.

Sial, sudah baik hati aku membagi rahasiaku padanya dia malah menganggapnya lelucon! Kalau dia tahu betapa besar dampak kemampuan rahasiaku ini dia pasti nggak akan meremehkannya seperti ini. Sebenarnya Aku tidak pernah menceritakan kemampuanku ini pada siapapun. Hanya Abah Kyai, pengasuh pesantren ini yang mengetahui rahasiaku ini. Itupun setelah aku shock berat ketika melihat diriku berbaring berhenti bernapas dalam mimpi setahun yang lalu itu.

Lalu kenapa malam ini aku membeberkan rahasia itu kepada Zaki? Entahlah, aku sendiri juga tidak begitu yakin. Mungkin karena kami sudah bersahabat sejak lama sehingga aku merasa perlu membagikan rahasia ini padanya. Dan dia malah menganggapnya lelucon. Tapi kuanggap wajar reaksinya itu. Siapa sih yang bisa percaya kalau santri gemar tidur sepertiku ternyata bisa melihat masa depan lewat mimpi?

 “Aku nggak bohong Zak,” balasku setelah menyeruput kopi. “Kalau kamu nggak percaya biar kubuktikan”.

Senyum menantang tergambar di wajah Zaki. “Oke, buktikanlah!”

Aku balas tersenyum. “Tadi malam aku mimpi. Kulihat orang-orang di negeru ini tertawa bahagia dan bangga melihat medali emas. Tapi sebagian dari mereka menangis ketakutan diantara reruntuhan bangunan. Silahkan kau buktikan kebenaran mimpiku besok, Zak!”

Besoknya Aku bakal menyesali keputusanku membagi rahasia ini padanya.

***

“Wan!” sebuah teriakan menyusup ke telingaku. “Bangu, woi! Tidur melulu kamu ini!”

Dengan berat kubuka mataku. Siapa sih yang mengganggu tidurku disiang yang cerah ini? Ternyata si Zaki. Dia sudah duduk di sampingku membawa sebuah koran.

“Ada apa?” Tanyaku seraya mengusap mata.

Zaki menunjukkan koran itu tepat di depan wajahku. “Lihat ini, Wan! Mimpimu semalam ternyata benar.”

Kubaca sekilas koran itu. Indonesia sukses mengantongi medali emas lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya dalam Asian Games. Dan berita tentang bencana gempa bumi di Lombok. Aku tersenyum penuh kemenangan menatap Zaki, “Jadi?”

“Aku percaya sama omonganmu kemarin,” ucap Zaki. “Dua peristiwa yang kamu ramalkan kemarin terlalu tepat untuk disebut sebuah kebetulan. Sory, aku udah nggak percaya duluan kemarin.”

Aku mengangguk.Tidak masalah.

“Ngomong-ngomong bisa nggak kamu melihat masa depan ku, Wan?” Zaki mulai bertanya. Nah, ini dia hal yang paling kutakutkan saat aku membuka rahasiaku, pasti bakal ada yang minta diterawang masa depannya. Memang aku ini peramal?

“Nggak bisa Zak,” jawabku. “Dengar, aku memang bisa melihat masa depan lewat mimpi, tapi itu cuma muncul kadang-kadang. Dan sebagaimana orang normalnya, Aku nggak bisa menentukan apa yang ingin kulihat didalam mimpi.”

Sekuel : Aku Mati Hari Ini

Zaki menggeleng. “Sudah kuduga, makanya Aku bawa ini!” Dia mengeluarkan selembar foto hitam putih ukuran 2x3 dari sakunya. Dirinya yang memakai kopiah hitam dan baju putih berkerah tergambar disana.

Ia melanjutkan, “Aku pernah dengar kalau mimpi seseorang itu biasanya menyangkut hal-hal yang dia lihat dan pikirkan sebelum tidur. Makanya sebelum tidur kamu lihat terus fotoku ini supaya bisa mimpi tentang aku.”

Rasanya perutku mau mual mendengar perkataannya itu. “Idih, ogah banget mantengin foto kamu sebelum tidur. Emang aku cowok apaan? Mendingan lihat fotonya Abah Kyai!”

“Alah, pelit amat sih kamu, Wan! Sahabatnya butuh pertolongan malah nggak nolong!”

“Terserah kamu, deh. Aku mau tidur lagi!” Aku berseru seraya menjatuhkan kepala ke bantal. Beberapa kali Zaki masih merengek, menggoyang-goyang tubuhku sebelum akhirnya dia pergi. Semoga saja dia sudah jera.

***

Ternyata dugaanku salah. Selama beberapa hari kemudian Zaki masih menerorku dengan permintaannya itu. Bahkan ketika meroisi pelajaran Ummul Barohin saat musyawaroh tadi dia malah mengumbar rahasiaku kepada teman-teman sekelas! Tentu saja mereka cuma tertawa terbahak-bahak, mengira Zaki terlalu banyak nonton film kartun. Dan meskipun sudah muak, Aku masih pada pendirianku. Aku tidak akan mau melihat masa depannya.

***

“Jadi dalam mimpimu kamu melihatku tampil saat bahtsu masa’il di serambi masjid?” tanya Zaki setelah mendengar ceritaku

Aku mengangguk. “Nggak cuma itu, kamu bahkan menyangkal para perumus dengan ibarotmu sampai titik darah penghabisan.”

Siang itu senyum mengembang di wajah Zaki.

***

Sejak hari itu Zaki berubah 180 derajat. Dia yang biasanya membisu saat musyawaroh mulai gemar menjawab. Dia yang biasanya ogah-ogahan kalau mencari ibarot sekarang gemar muthola’ah sendiri di perpustakaan setiap malam. Dia yang biasanya sering mengajakku cangkrukan nggak jelas mulai jarang melakukannya.

***

Tidak seperti biasanya, hari ini aku rela berdesak-desakkan dengan santri lain di serambi masjid demi melihat penampilan Zaki. Ya, diakhir tahun ajaran ini dia benar-benar terpilih menjadi salah satu wakil dari angkatan kami mengikuti bahtsul masa’il. Kulihat dia bersemangat mempertahankan jawabannya dan mengkritisi sangkalan peserta lain. Malam itu dia bersinar bagai rembulan tanggal 15.

***

Sebenarnya aku punya sebuah rahasia. Aku berbohong pada Zaki ketika menceritakan isi mimpiku padanya. Waktu itu aku terbangun pukul 03.40 bukan karena melihatnya menjadi aktivis bahtsu masa’il yang bersinar. Dalam mimpi itu aku melihatnya babak belur dipukuli para santri karena ketahuan mencuri uang dari lemariku.[]

Carpe Diem, Far!

Carpe Diem, Far!


Oleh : MiZ

“Jikalau bicara adalah perak, maka diam adalah emas.”

            Cahaya mentari menerobos celah-celah dedaunan di atas pohon yang mengalun pelan diterpa angin. Sore itu, aku termasuk dari barisan santri-santri yang antre di kamar mandi. Dengan pandangan mata yang masih agak kabur karena baru bangun tidur, kulihat jumlah antrean dan memperkirakan kecepatan mandi tiap santri. Sepertinya giliranku akan tiba 15 menit lagi. Kuputuskan untuk berjongkok, ikut mengantre seraya mengumpulkan nyawaku yang masih melayang-layang entah kemana.

            “Bro, lihat tuh didalam bilik nomer 3!”

            Telingaku tanpa sengaja menangkap sepotong percakapan. Kupandang arah kiriku. Dua orang santri sedang asyik membuat majelis rasan-rasan (gosip) karena bosan menunggu giliran. Santri yang mengawali muqodimah tadi berpostur tegap bak tembok. Sementara kawannya bertubuh pendek bagai anak TK.

            “Memangnya kenapa, bro?” Tanya si Pendek setelah melihat siapa santri yang sedang asyik di bilik nomer 3. Sebagai tambahan, biar kalian nggak salah paham, bilik kamar mandi yang sedang ramai ini tingginya hanya sebatas dada orang dewasa, sehingga tanpa perlu mengintip kalian bisa tahu siapa yang berada didalam bilik.

            “Bocah itu pendiam banget, jarang kumpul sama anak-anak.” Si Tegap menjawab dengan nada sebal.

            “Mosok tho, bro?” Si Pendek bertanya kembali, meminta taukid (penegasan).

            “Iyo, bocah itu nggak pernah di kamar. Sehari-harinya selalu di pondok induk atau di masjid.”

            Awalnya aku cuma menganggap percakapan dua santri disebelahku ini sebagai angin lalu, tapi entah kenapa kedua mataku ikut penasaran dan perlahan melihat santri yang sedang asyik mandi di bilik nomer 3 itu.

            Ah, ternyata itu kau. Kalau tidak salah kau pertama kali datang ke pondok ini setelah liburan maulud kemarin, kan? Dan kalau kupikir lebih dalam, kau mengingatkanku pada diriku di masa lalu. Pendiam, tenang dan serius. Itulah dirimu, Far.

***

            Tahukah kau, Far? Kalau melihatmu, aku bagai menatap sepotong cermin yang menampakkan pantulan diriku. Sama sepertimu, sejak kecil aku selalu dicap sebagai anak yang pendiam. Kalau semisal ada lembaga survei yang meminta orang-orang yang mengenalku untuk menentukan apakah aku ini seorang yang pendiam, standar, atau cerewet, maka kuyakin 99 persen dari mereka akan memilih pilihan pertama.

            Aku masih ingat, waktu kelas 1 SD dulu ketika kelas kami gaduh oleh celotehan, permainan dan guyonan, wali kelas kami menyuruh kami diam. Lalu beliau berkata,“jangan ramai-ramai saat pelajaran. Kalian tiru si MiZ dan Edi itu. Mereka selalu diam dan tenang.”

            Omongan wali kelas itu hanya bertahan beberapa minggu untuk si Edi, karena beberapa hari setelah itu dia terkenal sebagai biang guyonan di kelas. Namun dalam kasusku, perkataan wali kelas kami itu terus bertahan sampai hari ini. Meskipun setidaknya setelah mondok ini sifat pendiamku berkurang sebesar 3 persen.

***

            Far, kalau kau mendengar rasan-rasan (gosipan) mereka berdua janganlah khawatir. Tak usahlah kau bersusah payah merubah sifatmu. Tetaplah teguhkan dirimu yang pendiam. Karena dalam diam terdapat berjuta rahasia yang tersembunyi bagaikan mutiara di dasar lautan. Dan sebagai sesama pribadi yang pendiam, akan kubagikan padamu beberapa rahasia itu. Pasang telingamu dan dengarkanlah baik-baik!

***

            Besok, kalau kau sudah menginjak kelas 2 tsanawiyyah, kau akan berjumpa dengan sebuah kitab hadits agung nan legendaris, Arba’in Nawawi. Pengarangnya adalah seorang ulama’ besar mazhab Syafi’i, Syekh Yahya bin Syarof An-Nawawi. Kau tahu? Konon jumlah seluruh kitab karangan beliau melampaui jumlah usia beliau sendiri. Nah, pada bab 15 dari kitab Arba’in kau akan menemui sebuah hadits yang akan membuat hatimu bangga menjalani hidup sebagai seorang pendiam. Inilah haditsnya:

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam saja.”

            Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Jordany dalam kitab syarah Arba’in Nawawi beliau yang berjudul Jawahirul Lu’luiyyah membeberkan sedikit maksud dari hadits diatas: Lakukanlah perilaku orang-orang yang sempurna imannya, yaitu mengucapkan perkataan yang baik perkataan yang menghasilkan pundi-pundi pahala, dan menghindari mengucapkan perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan. Bahkan jauhilah perkataan yang dimubahkan, karena hanya akan membuang-buang waktu. Hal ini selaras dengan hadits yang tertulis di bab 12 kitab Arba’in:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Sebagian dari tanda kualitas baiknya islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.”

            Tentang hadits diatas Syekh Abi Bakr bin ‘Iyadh berkata, “Keuntungan minimal dari diam adalah keselamatan. Sedangkan kerugian terkecil dari perkataan adalah sebuah penyesalan.”

            Karena keutamaan & manfaat dari sifat pendiam itu begitu besar, maka muncullah istilah carpe diem. Diam itu emas.

***

            Hei Far, tahukah kau kenapa tuhan menciptakan untuk manusia sepasang telinga dan sepotong mulut? Itu agar manusia itu lebih banyak mendengar daripada bicara.

Cerpen: Aku Mati Hari Ini

Cerpen: Aku Mati Hari Ini

 


Oleh : MiZ

            Seumur hidup aku tidak pernah terkejut. Tidak ada kata terkejut dalam kamus kehidupanku. Semenjak lahir sampai sekarang tidak pernah sekalipun aku terkejut. Disaat teman-teman sekelasku terkejut karena pelajaran yang dimaknai Mustahiq hari ini dua kali lipat dari biasanya, aku biasa saja. Disaat teman-teman sekelasku terkejut karena tiba-tiba disuruh setoran nadzom, aku biasa saja. Disaat ada orang secara tiba-tiba menepuk punggungku dari belakang, aku biasa saja. Karena aku tidak pernah terkejut.

***

            Waktu SMP dulu, aku pernah ditertawakan oleh seluruh anak di kelasku. Penyebabnya sederhana. Ketika disuruh maju untuk perkenalan siswa baru, aku berkata kalau hobiku adalah tidur. Aku tidak tahu kenapa mereka tertawa. Memang apa salahnya dengan hobi tidur?

            “Kamu ini! Hobi itu harusnya sesuatu yang lebih bermanfaat, dong. Bukan tidur.” Bu guru menasehatiku seraya menahan tawa.

            Aku mengangkat bahu. Mereka bisa tertawa seenaknya karena tidak tahu rahasiaku. Rahasia kenapa aku hobi tidur.

***

            Perlahan mataku terbuka. Cahaya matahari menerobos melalui jendela kamar. Kulihat jam di dinding Pukul 10 pagi. Dengan malas kubangunkan tubuhku. Satu jam lagi saatnya musyawaroh.

            Kupandangi langit-langit kamar yang kusam. Barusan aku bermimpi. Setelah musyawaroh berakhir pada pukul satu, seluruh teman sekelasku melempariku dengan tepung terigu, lalu ramai-ramai melemparkanku kedalam jeding kobok di samping kelas. Mereka melakukan semua itu diiringi dengan lagu “happy birthday to you”.

            Mengingat mimpi barusan membuatku malas untuk berangkat musyawaroh hari ini. Lebih enak tiduran di kamar. Baiklah, akan kuminta Fuad mengizinkanku pada Bapak Mustahiq nanti. Alasan demam memang sudah pasaran, tapi sepertinya bakal manjur. Apalagi ini hari ulang tahunku.

***

            “Kenapa kau nggak berangkat musyawaroh tadi siang, Wan?”  Zaki bertanya padaku di saat istirahat sekolah.

            “Aku tidak enak badan. Demam.”  Jawabku pendek.

            “Kau tahu? Kau ini beruntung banget. Padahal tadi anak-anak sudah siap menyirammu dengan tepung untuk ngerayain ulang tahunmu.”

            Aku tersenyum. Tentu saja aku tahu. Aku sudah melihat kejadian itu di dalam mimpiku. Inilah alasan kenapa seumur hidup aku tidak pernah terkejut. Inilah rahasia kenapa aku hobi tidur. Aku bisa melihat masa depan melalui mimpi.

***

            Nafasku tersengal-sengal. Keringat mengalir di seluruh tubuhku, membasahi kaos yang kupakai. Kugeleng-gelengkan kepalaku. Kulihat jam di dinding. Pukul empat seperempat dini hari.

            Kubangunkan tubuhku. Mengambil segelas air putih dari galon dan seketika menghabiskannya. Kucoba mengatur nafasku. Bohong. Ini tidak mungkin terjadi.

            Barusan aku bermimpi. Dalam mimpi itu kulihat tubuhku masih tertidur di kamar, padahal waktu subuh sudah hampir habis. Teman-teman sekamarku menggoyang-goyang tubuhku, berusaha membangunkan. Namun digoyang beberapa kali tubuh itu tetap terdiam.

            Melihatku yang tidak bergerak bagai patung, iseng Fuad menyentuh leherku. Lalu dia menjerit sampai membangunkan anak-anak yang melanjutkan tidur setelah sholat subuh. Mereka bertanya kenapa Fuad berteriak. Dengan ekspresi ketakutan Fuad menjawab. Aku sudah mati.

***

            Pelajaran Alfiyyah ibnu Malik yang dijelaskan oleh Zaki saat musyawaroh siang itu tidak ada yang masuk dalam otakku. Pikiranku masih dipenuhi mimpiku tadi subuh.

            Ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak mungkin mati secepat ini. Umurku masih terlalu muda. Masih banyak cita-cita yang ingin kucapai. Masih banyak kenikmatan dunia yang belum kurasakan. Apalagi aku belum menikah!

            Tapi selama ini mimpiku tidak pernah meleset. Berkali-kali aku telah membuktikannya. Sejak kecil mimpi-mimpiku selalu memberi tahu masa depanku dengan tepat. Tidak pernah sekalipun berbohong. Jadi, hari ini adalah hari terakhirku sebelum dikunjungi malaikat maut. Besok subuh aku akan mati.

***

            Siang itu aku menelepon rumah. Dengan air mata berceceran aku meminta maaf atas semua kelakuanku pada kedua orang tuaku. Mereka bertanya kenapa tiba-tiba aku meminta maaf. Aku menjawab tidak ada apa-apa.

            Tadi, sebelum musyawaroh berakhir aku maju kedepan kelas. Dengan suara lantang aku mengucapkan permintaan maaf pada seluruh anak di kelas. Sontak mereka tertawa, menganggapku bercanda. Namun ketika melihat mataku yang mengalirkan air mata, tawa mereka terhenti.

            “Kamu nggak apa-apa, Wan?”  Zaki bertanya simpati padaku.

            Aku menggeleng, lalu segera keluar kelas begitu lonceng berbunyi.

***

            Suara isak tangisku memenuhi ruang tamu Abah Kyai. Sore itu aku memutuskan untuk sowan kepada Pengasuh Pondok Pesantren ini. Kubuka semua tentang rahasia mimpiku kepada beliau. Kuceritakan mimpi yang menghantuiku sepanjang hari ini kepada beliau.

            Setelah beberapa jenak hanya terdengar suara tangisanku, tangan sepuh beliau menepuk lembut pundakku.

            “Sedekahkan semua uangmu. Setidaknya itu bisa menjadi bekal untukmu.” Abah Kyai berkata lembut.

            Seketika tangisku makin menjadi-jadi demi mendengar perkataan beliau. Sepontan kupeluk erat tubuh beliau untuk terakhir kalinya.

***

            Malam harinya, sebelum beranjak tidur kukumpulkan seluruh anggota kamar ini. Aku meminta maaf kepada mereka semua dan mensedekahkan seluruh uang yang kumiliki. Mereka langsung bersorak gembira. Berkata kalau sudah memaafkan semua kesalahanku sambil menikmati mayoran ayam goreng plus sambal penyet dadakan.

***

            Setelah pesta ayam goreng tadi kubaringkan tubuhku diatas sajadah.  Akhirnya sebentar lagi waktuku akan habis. Untuk terakhir kali, aku bersyukur kepada tuhan yang telah memberikan hidup yang istimewa ini.

***

            “Subuh! Subuh! Bangun!”

            Teriakan anak-anak kamarku membangunkanku. Kulihat jam di dinding, pukul setengah lima. Barusan aku bermimpi bertemu Abah Kyai. Beliau tesenyum kepadaku. Indah sekali. Bagaikan bulan purnama tanggal lima belas.[]