Modifikasi dakwah dalam Pencak Silat

Oleh:Ahmad Ya’lu wala Yu’la ‘A

Pencak silat dikenal publik sebagai bela diri asli indonesia yang memiliki daya tarik tersendiri dikalangan masyarakat, karena memiliki corak yang khas asli indonesia, corak yang dibentuk dari akulturasi seni, budaya, olahraga dan didukung aspek spiritual yang disatukan dalam diri pencak silat, maka tak heran bila seantero nusantara ini pencak silat memiliki banyak ragam yang berbeda menyesuaikan adat istiadat yang berlaku didaerahnya.

Sayangnya diera modern ini pencak silat mulai kehilangan kepercayaan dari masyarakat dan dipandang sebelah mata. perlu kita akui, memang ada beberapa alasan yang mendukung hal tsb, seperti metode yang diajarkan yang masih terlalu masif dengan balutan senioritas seniornya dirasa sangat menakutkan untuk generasi anti bulliying saat ini juga adanya asumsi bahwa pencak silat adalah biang keonaran dan kerusuhan dari peristiwa yang pernah terjadi. Hal ini menjadi atensi bagi para santri yang sering kali terabaikan bahkan luput dari pengetahuan mengenai sejarah pencak silat, khususnya Pagar Nusa dan Gasmi.

Dalam perkembangannya Pencak Silat memiliki tempat khusus disudut pesantren, bukan hanya dalam sosiohistorynya atau hanya sebatas esktrakulikuler, lebih dari itu pencak silat yang tumbuh dari rahim pesantren adalah wadah untuk berdakwah. Dahulu memang guru kita membentuk organisasi pencak karena keprihatinan tentang surutnya dunia persilatan dipelataran pondok pesantren yang pada awalnya pencak silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pondok pesantren, namun hal tersebut telah tercapai dihari ini maka, langkah kita selanjutnya adalah memodifikasi agar pencat silat tetap eksis diera yang serba modern ini.

Dari permasalahan ini santri dituntut untuk mampu memodifikasi sistem yang berlaku dalam pencak silat bukan merubah sistem yang telah terlaku, salah satunya dengan mengedukasi dengan ilmu syariat dalam metode pendidikan pencak silat, dikarenakan diluar sana kebanyakan dari pengikut pencak silat adalah orang yang bisa dikatakan awam dari babakan agama, peran sentral seorang santri sangat dibutuhkan untuk mengintervansi pendidikan pencak silat, agar mereka tidak terobsesi bahwa pencak silat hanya untuk membela diri saja namun, juga harus ada jiwa yang musti diolah, ada rasa yang harus diasah dan ada nafsu yang perlu disanggah. semua hal ini bisa diperoleh dengan ngaji.     

Sebagai seorang santri terlebih santri lirboyo mustinya kita lebih bersyukur karena oleh guru kita telah dibukakan jalan selebar lebarnya melalui Pagar Nusa dan Gasmi yang berlatar belakang pesantren dan memiliki basis pengikut yang besar di bumi nusantara ini, yang mana mereka tak seberuntung kita memiliki kesempatan belajar dipesantren, namun mereka adalah orang orang yang pro dengan pesantren siap menjadi garda terdepan kala para kyai dan santri dalam keadaan yang tidak baik baik saja, sudah seharusnya kita mampu merangkul mereka agar sejalan dengan apa yang dicita citakan oleh guru kita dan kita sendiri juga dapat mengamalkan apa yang telah didawuhkan oleh guru kita.

Harapannya, kedepan langkah inisiatif & inovatif para santri dapat menyeluruh pada budaya yang bersinggungan langsung dengan pesantren, agar tradisi yang telah turun temurun itu tidak berjalan ditempat.

Teruntuk guru KH.Abdulloh Ma’sum Jauhari bin Abdulloh Jauhari Fadil, Al Fatihah....  


Previous Post
Next Post

1 komentar: